Cari Blog Ini

Selasa, 08 April 2014

Kecuali Lo Orang Paling Oke Sedunia... Jangan Jelek-jelekin Orang Dibelakang!





Kita manusia, butuh manusia lain untuk bisa hidup, paling ngga untuk hidup dengan wajar.
Bahkan Superman kalo ngga dengan bantuan ‘penghuni planet crypton’ lainnya (which is ortunya) gabakal nyampe ke bumi, dan ikutan musnah bareng penduduk crypton lainnya.
Tapi manusia suka lupa. Lupa kalo masih butuh manusia lainnya, sesimpel “eh, minjem pulpen lo dong”, “eh lo ke pantry kan? Tolong sekalian ambilin minum yah” dan sebagainya yang mengindikasikan lo butuh orang lain...
Ketika dua anak manusia (atau lebih) dan salah satunya membuka dengan... “eh, tau ga sih, kemaren si A keilangan duit ‘sekian’ lho, dan ga lama kemudian si B gue liat ganti hape masa, mencurigakan tuuh..” selanjutnya menjadi semakin seru dan seru..
Lain halnya dengan ketika...
“eh, tau ga sih, kemaren si A pulang kantor paling belakangan, dia kan suka bersih-bersih sampah yang masih berserakan gitu di meja, baik yah!” kecuali yang bersangkutan lagi naksir sama si A tadi, pembicaraan ini tampaknya jarang sekali ada, apalagi berlanjut dengan sambungan dari yang lain untuk memuji orang yang lainnya lagi. Kalo boleh sedikit su’udzon, yang ini gaada! Malah sepertinya setelah si orang pertama memulai pembicaraan, bakal ada oknum yang menimpali dengan “halah, hati-hati tuh, lagi ada maksud tertentu...”

  









Diomongin dibelakang? Emang enaak!?
 
See? Betapa susahnya bicara hal positif menyangkut seseorang. Yang negatif jauh lebih mengasyikkan.. Ya! Mengasyikkan untuk terus dibumbui dan ditimpali.
Tapi tahukah lo? Bahwa di suatu kumpulan penggosip (yang mana mungkin didalamnya ada lo juga) selalu ada satu ‘peraturan tak tertulis’ yang eksis dari anggotanya, bahwa “siapa yang saat itu sedang tidak ada di kumpulan, dia bakal kena satu-dua sesi sebagai objek gosipnya!”. Jangan kira karena ada satu yang paling jago ngorek aib orang, ketika dia gaada, yang lainnya gabakal ngomongin dia.. meeenn.. Jangan naif laa! Kecuali lo setengah klenik dan pernah ngebual bisa tau dari jauh tiap lagi diomongin, lo juga masih bisa jadi makanan empuk!
Dan menurut penulis disini, ada satu hal yang bisa membuat kita batal jelek-jelekin orang dibelakang. Adalah karena kita mungkin aja ada di keadaan yang serupa. Shit happens. Hari ini lo mencibir temen sekampus lo yang abis diusir dosen, bukan ga mungkin beberapa hari kemudian lo dijalan menuju kampus, kendaraan yang lo naikin mogok atau bannya bocor, kelas udah dimulai setengah jam lebih ketika lo...”maaf pak saya terlambat, tadi dijal......” | “maaf mas, saya sedang tidak terima alasan hari ini, silakan keluar...” potong sang dosen sambil selfie...
Atau, lo “mampus-mampus”-in temen lo yang hamil sama pacarnya, berbulan kemudian adek perempuan lo masuk kamar lo sambil nangis dan nyerahin test-pack yang hasilnya, positif..... Ga lucu lagi kan buat lo “mampus-mampus”-in...??
“Life Does Twisting”
Ada siih yang berlapis ego mengatasnamakan hukum rimba dengan, “ah biarin aja, toh dia juga ngomongin gue kalo gue yang lagi gaada!”.
Coba yang satu ini! Belajar untuk ngga ngomongin kejelekan orang dibelakangnya. Biarpun suka apes, biarpun ketimpa masalah yang kayanya gaada ujungnya.. tapi, rasain bedanya. Ada? Pasti ada!
Satu! Lo ngga kecele. Tengsin abis bukan, ketika hari ini lo jelekin orang dengan tema sesuatu, besoknya lo ketimpa apes di tema yang serupa?
Dua! Itu berarti lo berhasil mendamaikan diri lo sendiri. Diri sendiri? Ya diri sendiri. Karena se-bosen-bosennya lo denger itu dari para motivator, memang benar bahwa musuh utama dari seseorang adalah dirinya sendiri (selain syaitan tentunyaa...huahahahaha *koq yang nulis ketawa? Hmm)
Kalo penulis siih, ga terlalu minat buat ngejudge orang, selama diri sendiri masih mungkin berada di keadaan/posisi serupa.. Dan ajaibnya, orang berubah, seiring lingkungan yang dipilihnya. Seperti guratan garis tangan yang bisa berubah-bertambah-dan-berkurang tergantung bagaimana tangan itu digunakan. Jadi...
Masih pengen jelekin orang dibelakang? You decide.. :)


-Will-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar