Kita manusia, butuh manusia lain untuk bisa hidup, paling ngga untuk hidup dengan wajar.
Bahkan Superman kalo
ngga dengan bantuan ‘penghuni planet crypton’ lainnya (which is ortunya)
gabakal nyampe ke bumi, dan ikutan musnah bareng penduduk crypton lainnya.
Tapi manusia suka lupa. Lupa
kalo masih butuh manusia lainnya, sesimpel “eh, minjem pulpen lo dong”, “eh lo
ke pantry kan? Tolong sekalian ambilin minum yah” dan sebagainya yang
mengindikasikan lo butuh orang lain...
Ketika dua anak manusia
(atau lebih) dan salah satunya membuka dengan... “eh, tau ga sih, kemaren si A
keilangan duit ‘sekian’ lho, dan ga lama kemudian si B gue liat ganti hape masa,
mencurigakan tuuh..” selanjutnya menjadi semakin seru dan seru..
Lain halnya dengan
ketika...
“eh, tau ga sih, kemaren
si A pulang kantor paling belakangan, dia kan suka bersih-bersih sampah yang
masih berserakan gitu di meja, baik yah!” kecuali yang bersangkutan lagi naksir
sama si A tadi, pembicaraan ini tampaknya jarang sekali ada, apalagi berlanjut
dengan sambungan dari yang lain untuk memuji orang yang lainnya lagi. Kalo
boleh sedikit su’udzon, yang ini gaada! Malah sepertinya setelah si orang
pertama memulai pembicaraan, bakal ada oknum yang menimpali dengan “halah, hati-hati
tuh, lagi ada maksud tertentu...”
Diomongin
dibelakang? Emang enaak!?
See? Betapa susahnya
bicara hal positif menyangkut seseorang. Yang negatif jauh lebih mengasyikkan..
Ya! Mengasyikkan untuk terus dibumbui dan ditimpali.
Tapi tahukah lo? Bahwa
di suatu kumpulan penggosip (yang mana mungkin didalamnya ada lo juga) selalu
ada satu ‘peraturan tak tertulis’ yang eksis dari anggotanya, bahwa “siapa yang
saat itu sedang tidak ada di kumpulan, dia bakal kena satu-dua sesi sebagai
objek gosipnya!”. Jangan kira karena ada satu yang paling jago ngorek aib
orang, ketika dia gaada, yang lainnya gabakal ngomongin dia.. meeenn.. Jangan
naif laa! Kecuali lo setengah klenik dan pernah ngebual bisa tau dari jauh tiap
lagi diomongin, lo juga masih bisa jadi makanan empuk!
Dan menurut penulis
disini, ada satu hal yang bisa membuat kita batal jelek-jelekin orang
dibelakang. Adalah karena kita mungkin aja ada di keadaan yang serupa. Shit
happens. Hari ini lo mencibir temen sekampus lo yang abis diusir dosen, bukan ga
mungkin beberapa hari kemudian lo dijalan menuju kampus, kendaraan yang lo
naikin mogok atau bannya bocor, kelas udah dimulai setengah jam lebih ketika
lo...”maaf pak saya terlambat, tadi dijal......” | “maaf mas, saya sedang tidak
terima alasan hari ini, silakan keluar...” potong sang dosen sambil selfie...
Atau, lo
“mampus-mampus”-in temen lo yang hamil sama pacarnya, berbulan kemudian adek
perempuan lo masuk kamar lo sambil nangis dan nyerahin test-pack yang hasilnya,
positif..... Ga lucu lagi kan buat lo “mampus-mampus”-in...??
“Life Does Twisting”
Ada siih yang berlapis
ego mengatasnamakan hukum rimba dengan, “ah biarin aja, toh dia juga ngomongin
gue kalo gue yang lagi gaada!”.
Coba yang satu ini!
Belajar untuk ngga ngomongin kejelekan orang dibelakangnya. Biarpun suka apes,
biarpun ketimpa masalah yang kayanya gaada ujungnya.. tapi, rasain bedanya.
Ada? Pasti ada!
Satu! Lo ngga kecele.
Tengsin abis bukan, ketika hari ini lo jelekin orang dengan tema sesuatu,
besoknya lo ketimpa apes di tema yang serupa?
Dua! Itu berarti lo
berhasil mendamaikan diri lo sendiri. Diri sendiri? Ya diri sendiri. Karena
se-bosen-bosennya lo denger itu dari para motivator, memang benar bahwa musuh
utama dari seseorang adalah dirinya sendiri (selain syaitan tentunyaa...huahahahaha
*koq yang nulis ketawa? Hmm)
Kalo penulis siih, ga terlalu
minat buat ngejudge orang, selama diri sendiri masih mungkin berada di
keadaan/posisi serupa.. Dan ajaibnya, orang berubah, seiring lingkungan yang
dipilihnya. Seperti guratan garis tangan yang bisa
berubah-bertambah-dan-berkurang tergantung bagaimana tangan itu digunakan. Jadi...
Masih pengen jelekin
orang dibelakang? You decide.. :)
-Will-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar